BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Pendidikan
sebagai usaha sadar yang sistematis-sistemik selalu bertolak dari sejumlah
landasan serta mengindahkan sejumlah asas-asas tertentu. Landasan dan asas
tersebut sangat penting, karena pendidikan merupakan pilar utama terhadap
pengembangan manusia dan masyarakat suatu bangsa tertentu. Untuk indonesia,
pendidikan diharapkan mengusahakan pembentukan manusia pancasila sebagai
manusia pembangunan yang tinggi kualitasnya dan mampu mandiri. Pemberian dan
dukungan bagi perkembangan masyarakat, bangsa, dan negara indonesia.
Landasan-landasan
pendidikan tersebut akan memberikan pijakan dan arah terhadap pembentukan
manusia indonesia, serentak dengan itu, mendukungan perkembangan masyarakat,
bangsa, dan negara. Sedangkan asas-asas pokok pendidikan akan memberikan corak
khusus dalam penyelenggaraan pendidikan itu, dan pada gilirannya, memberi corak
pada hasil-hasil pendidikan itu, yakni manusia dan masyarakat indonesia.
B.
Rumusan
Masalah
Rumusan masalah yang akan dijadikan sebagai bahan
acuan adalah sebagai berikut :
1. Apa
saja landasan pendidikan dan asas-asas pendidikan serta bagaimana penerapannya
?
2. Apa
saja macam-macam landasan pendidikan ?
3. Apakah
pengertian tentang berbagai macam landasan pendidikan, serta asas-asas
pendidikan ?
C.
Tujuan
Pembahasan
Tujuan dari pembahasan
makalah ini, antara lain :
1. Untuk
dapat memahami berbagai macam landasan pendidikan.
2. Untuk
dapat memiliki wawasan kependidikan dengan perspektif yang luas tentang
pendidikan.
D. Manfaat
Pembahasan
a.
Bagi Penulis
Manfaat yang bisa
diambil oleh penulis adalah sebagai berikut :
1. Bisa
memahami apa yang telah dibahas dalam makalah ini.
2. Bisa
memberikan pengetahuan kepada pembaca.
b.
Bagi Pembaca
Manfaat yang bisa
diambil oleh pembaca adalah sebagai berikut :
a. Bisa
mengetahui pengertian dari landasan
dan asas-asas pendidikan.
b. Bisa
mengetahui pengertian, dan penerapan landasan dan asas-asas pendidikan.
BAB
II
PEMBAHASAN
LANDASAN DAN ASAS-ASAS PENDIDIDIKAN SERTA PENERAPANYA
A.
Landasan
Pendidikan
Pendidikan
adalah suatu yang universal dan berlangsung terus. Tak terputusdari generasi ke
generasi dimanapun di dunia ini. Upaya manusia memanusiakan manusia melalui
pendidikan itu diselenggarakan sesuai
dengan pandangan hidup.dan dalam latar social kebudayaan setiap masyarakat tertentu
sesuai dengan pandangan hidup dengan kata lain, pendidikan diselenggarakan
berlandaskan filsafat hidup serta berlandaskan sosiokultural stiap masyarakat,
termasuk di Indonesia. Kajian ketiga landasan itu.
1.
Landasan
Filosofis
Landasan filosofis merupakan landasan yang
berkaitan degan makna atau hakiakat pendidikan, yang berusaha menelaah
masalah-masalah pokok.konsepsi-konsepsi filosofis tentang kehidupa manusia dan
dunianya pada umumnya bersumber dari dua faktor :
1. Religi
dan etika yang bertumpu pada keyakinnan.
2. Ilmu
pengetahuanyang mengandalkan penalaran.
a. Pengertian Tentang Landasan Filosofis
Terdapat
kaitan yang erat antara pendidikan dan filsafat karena filsafat mencoba
merumuskan citra tentang manusia dan masyarakat. Peranan filsafat dalam bidang pendidikan
tersebut berkaitan dengan hasil kajian antara lain:
1. Keberadaan
dan kedudukan manusia sebagai makhluk didunia ini.
2. Masyarakat
dankebudayaannya.
3. Keterbatasan
manusia sebagai makhluk hidup yang banyak menghadappi tantangan.
4. Perlunya
landasan pemikiran dalam pekrjaan pendidikan.
Aliran
filsafat yang sangat besar pengaruhnya terhadap pendidikan adalah idealisme,
frenialisme, progrevisme, dan rekonstruksionisme. Baik sebagai aliran filsafat
maupun sebagai mazhab filsafat pendidika, pandangan-pandangan tentang manusia
dan dunianya pada umumnya ikut mempengaruhi konsepsi dan atau penyelenggaraan
pedidikan.
1. Naturalisme
merupakan aliran filsafat yang menganggap segala kenyataan yang bias di tangkap
oleh panca indra sebagai kebenaran yang sebenarnya.
2. Betentangan
dengan aliran diatas, idealisme menegaskan bahwa hakikat kenyataan adalah ide
sebagai gagasan kejiwaan.
3. Pragmatisme
merupakan aliran filsafat yang mengemukakan bahwa segala sesuatu harus di nilai
dari segi kegunaan.
4. Aliran
filsafat yang bercorak keagamaan ikut pula mempengaruhi pemikiran tentang
pendidikan.
Selanjutnya,
empat mahzab filsafat pendidikan yang besar pengaruhnya dalam pemkiran dan
penyelenggaraan pendidikan. Keeempat
mazhab pendidkan itu adalah:
1)
Esensialisme
Esensialisme
merupakan mazhab filsafat pendidikan yang menerapkan prinsip edealime dan
realisme secara elektis. Filsafat idealisme memberikan dasar tinjauan filosofis
bagi pelajaran sejarah, sedangkan ilmu pengetahuan alam di ajarkan berdasarkan
tinjauan yang realistik. Mateematika yang sangat di utamakan idealime, karena
matematika adalah alat oeng hitung penjumlahan dari apap-apa yang rill, materill,
dan nyata.
2)
Perenialisme
Ada
persamaan antara perenialime dan esensialisme, yakni keduanya membela kurikulum tradisional yang berpusat pada mata
pelajaran yang pokok, perbedaanya iyalah prenealisme menekankan ke abadian
teori kehikmatan. Oleh karena itu, dinamakan perenialisme karena kurikulumnya
berisi materi yang konstan atau peenial.
Mazhab
perenialisme memiliki penganut pada perguruan swasta di Indonesia, karena
mengintegerasikan kebenaran agama dengan kebenaran ilmu. Karena kebenaran itu
satu, maka harus ada satu pendidikan berlaku umum dan terbuka kepada umum. Juga
sebaiknya kurikulum bersipat wajib dan berlaku umum, yang harus mencakup bahasa,
matematika, ilmu pengetahuan alam, dan sejarah.
3)
Pragmatisme
dan Progresivisme
Manusia
akan mengalammi perkembangan apabila berinteraksi dengan lingkungan
sekitarnya berdasarkan pemikiran.
Sekolah adalah suatu lingkungan
khusus yang merupakan sambungan dari lingkungan sosial yang lebih umum. Progresivisme atau gerakan pendidikan
progresif mengembangkan teori pendidikan yang mendasakan diri pada bebebrapa
prinsip, antara lain sebagai berikut:
a. Anak
harus bebas un t uk dapat berkembang secara wajar.
b. Pengalaman
langsung merupakan cara terbaik untuk merangsang minat belajar.
c. Guru
harus menjadi seorang peneliti dan pembimbing kegiatan belajar.
d. Seklah
progresif harus merupakan suatulaboturium untuk melakukan reformasi pedagogis dan
ekseprimentasi.
4)
Rekontruksionisme
Rekontruksionisme
adalah suatu kelanjutan yang logis dari cara berpikir progresif dalam
pendidikan. Individu tidak hanya belajar tentang pengalaman-pengalaman
kemasyarakatan masa kini di sekolah. Tetapi haruslah mememlopori masyarakat
kearah masyarakat baru yang diinginkan. Dengan demikian, tidak seiap individu
dan kelompokakan mememcahkan masalah kemasyarakatan secara sendiri-sendiri.
Namun sebagai pemimpin penelitian, guru di tuntut supaya menguasai sejumlah pengetahuan
dan ilmu esensial demi keterararahan pertumbuhan muridnya.
b.
Pancasila
Sebagai Landasan Filosofis Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas)
Pasal
2UU-RI No. 2 Tahun 1989 menetapkan bahwa pendidikan Nasional berdasarkan
pancasila dan undang-undang dasar 1945. yang menegaskan bahwa pembangunnan
nasional termasuk di bidang pendidikan, adalah pengamalan pancasila, dan untuk
itu pendidikan nasionl mengusahakan antara lain : “pembentukan manusia
pancasila ssebagai manusia pembangunnan yang tinggi kualitasnya dan mampu mandiri
”(UU, 1992: 24). Sedangkan ketetapan MPR-RI No. II/MPR/1978 tentang pedoan Penghayatan dan pengamalan pancasila
menegaskan pula bahwa pancasila itu adalah jiwa seluruh rakyat Indonesia,
pandangan hidup bangsa Indonesia, dan dasar Negara Republik Indonesia.
Perlu
di tegaskan bahwa pengamalan pancasila itu haruslah dalam arti keseluruhan dan
keutuhan kelima sila dalam pancasila itu, sebagai yang dirumuskan dalam
pembukaanUUD 1945, yakni ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusian yang adil dan beradap,
Persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan dan keadian sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
2.
Landasan
Sosiologis
Ciri-ciri
hewan dapat ditemukan pada manusia. Kehidupan sosial manusia di pelajarri oleh
filsafat, yang berusaha mencari hakikat masyarakat yang sebenarnya. Filsafat
social sering membedakan manusia sebagai individu dan manusia sebagai anggota
masyarakat. Pandangan-pandangan aliran-aliran filsafat tentang realitas social
itu berbeda-beda, sehingga dapat di temukan bermacam-macam aliran filsafat
social.
Nama
sosiologi untuk pertama kali digunakan oleh Agust Comte (1798-1857) pada tahun
1839, sosiologi merupakan ilmu peengetauan positif yang mempelajari masyarakat.
Sosiologi mempelajari berbagai tindakan social yang menjelma dengan realitas
sosial. Mengingat banyaknya realitas sosial maka lahirlah bebagai cabang
sosiologi seperti, sosiologi kebudayaan, sosiologi ekonomi, sosiologi agama,
sosiologi pengetahuan, sosiologi pendidikan, dan lain-lain.
a.
Pengertian
Tentang Landasan Sosiologi
Kegiatan
pendiddikan merupakan suatu proses interaksi antara dua individu, bahkan dua
generasi, yang memungkinkan generasi muda memperkembangkan diri. Dengan
meningkatkan perhatian sosiologi pada kegiatan pendidikan tersebut, maka
lahirlah cabang sosiologi pendidikan.
Sosiologi
pendidikan merupakan analisis ilmiah tentang proses social dan pola-pola
interaksi social didalam system pendidikan. Ruang lingkup yang dipelajari oleh
sosiologi pendidikan meliputi empat
bidang:
1) Hubungan
system pendidikan dengan aspek masyarakat lain, yang mempelajari:
a. Fungsi
pendidikan dalam kebudayaan.
b. Hubungan
system pendidikan dan proses control social dan system kekuasaan.
c. Fungsi
system pendidikan dalam memelihara dan mendorong proses social dan perubahan
kebudayaan.
d. Hubungan
pendidikan dengan kelas social atau system status.
e. Fungsionalisasi
system pendidikan formal dalam hubungannya dengan ras, kebudayaan, atau
kelompok-kelompok dalam masyarakat.
2) Hubungan
kemanusian disekolah yang meliputi:
a. Sifat
kebudayaan sekolah khususnya yang
berbeda dengan kebudayaan diluar sekolah.
b. Pola
interaksi social atau struktur masyarakat sekolah.
3) Pengaruh
sekolah pada perilaku anggotanya, yang mempelajari:
a. Peranan
social guru.
b. Sifat
kepribadian guru.
c. Pengaruh
kepribadian guru terhadap tingkah laku siswa.
d. Fungsi
sekolah dalam sosialisasi anak-anak.
4) Sekolah
dalam komunitas yang mempelajari pola interaksi antara sekolah dengan kelompok
social lain didalam komunitasnya, yang meliputi:
a. Pelukisan
tentang komunita seperti tampak dalam pengaruhnya terhadap organisasi sekolah.
b. Analisis
tentang proses pendidikan seperti tampak terjadi pada system social komunitas
kaum tidak terpelajar.
c. Hubungan
antara sekolah dan komunitas dalam fungsi kependidikannya.
Keempat
bidang yang dipelajari tersebut sangat esensial sebagi sarana untuk memahami
system pendidikan dalam kaitannya dengan keseluruhan hidup masyarakat (Wayan
Ardana, 1986: modul 1/67). Kajian sosiologi pada pendidikan pada prinsipnya
mencakup semua jalur pendidikan, baik pendidikan sekolah maupun pendidikan
diluar sekolah. Khususnya untuk jalur pendidikan luar sekolah, terutama apabial
ditinjau dari sosiologi maka pendidikan keluarga adalah sangat penting, karena
keluarga merupakan lembaga sosial yang pertama bagi setiap manusia. Dalam UUD
RI No.
2 tahun 1989 pasal 10 ayat 4 dinyatakan bahwa “pendidikan keluarga
merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam
keluarga dan yang memberikan keyakian agama, nilai budaya, nilai moral, dan
keterampilan”.
b.
Masyarakat
Indonesia sebagai Landasan Sosiologis Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas)
Masyarakat
mencakup sekelompok orang yang berinteraksi antar sesamanya, saling tergantung
dan terikat oleh nilai dan norma yang dipatuhi bersama, serta pada umumnya
bertempat tinggal di wilayah tertentu, dan adakalanya mereka mempunyai hubungan
darah atau memiliki kepentingan bersama. Masyarakat dalam arti luas pada
umumnya lebih abstrak apabila dibandingkan dengan masyarakat dalam arti sempit.
Masyarakat
sebagai kesatuan hidup memiliki ciri utama antara lain:
a. Ada
interaksi antara warga-warganya
b. Pola
tingkah laku warganya diatur oleh adat istiadat, norma-norma, hukum, dan
aturan-aturan khas
c. Ada
rasa identitas yang mengikat pada warganya. Kesatuan wilayah, kesatuan adat
istiadat rasa identitas, dan rasa loyalitas terhadap kelompoknya merupakan
pangkal dari persaan bangga sebagai patriotism, nasionalisme, jiwa korps, dan
kesetiakawanan social dan lain-lain (Wayan Ardana, 1986: modul 1/68)
Sampai
saat ini, masyarakat Indonesia masih ditandai oleh dua ciri yang unik, yakni:
1. Secara
horizontal ditandai oleh kesatuan-kesatuan social atau komunitas berdasarkan
perbedaan suku, agama, adat istiadat, dan kedaerahan.
2. Secar
vertical ditandai oleh adanya perbedaan pola kehidupan antara lapisan atas,
menengah, dan alpisan rendah.
Pada
zaman penjajahan sifat dasar masyarakat Indonesia yang menonjol adalah:
a. Terjadi
segmentasi kedalam bentuk kelompok social atau golongan social jajahan yang seringkali
memiliki sub-kebudayaan sendiri
b. Memiliki
struktur social yang terbagi-terbagi
c. Seringkali
anggota masyarakat atau kelompok tidak mengembangkan consensus diantara mereka
terhadap nilai-nilai yang bersifat mendasar
d. Diantara
kelompok , relative seringkali mengalami konflik-konflik
e. Terdapat
saling ketergantungan dibidang ekonomi
f. Adanya
dominasi politik oleh suatu kelompok atas kelompok-kelompok social yang lain
g. Secara
relative integrasi social sukar dapat tumbuh (Wayan Ardina, 1968: modul 1/70).
3.
Landasan
Kultural
Pendidikan selalu terkait dengan
manusia, sedang setiap manusia selalu menjadi anggota masyarakat dan pendukung
kebudayaan tertentu. Oleh karena itu, UU-RI No. 2 tahun 1989 pasal 1 ayat 2
ditegaskan bahwa yang dimaksud dengan system pendidikan nasional adalah
pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan yang berdasarkan
pada pancasila dan UUD 1945. Kebudayaan dari pendidikan mempunyai hubungan
timbal balik, sebab kebudayaan dapat dilestarikan/ dikembangkan dengan jalan
mewariskan kebudayaan dari generasi ke generasi penerus dengan jalan
pendidikan, baik secara informal maupun secara formal. Dimaksud dengan
kebudayaan adalah hasil cipta dan karya manusia berupa norma-norma,
nilai-nilai, kepercayaan, tingkah laku, dan teknologi yang dipelajari dan
dimiliki oleh semua anggota masyarakat tertentu.
a.
Pengertian
tentang Landsan Kultural
Kebudayaan sebagai gagasan dan karya
manusia beserta hasil budi dan karya itu akan selalu terkait dengan pendidikan,
utamanya belajar. Kebudayaan dalam arti luas tersebut dapat berwujud:
1. Ideal
seperti ide, gagasan, nilai, dan sebagainya.
2. Kelakuan
berpola dari manusia dalam masyarakat.
3. Fisik
yakni benda hasil karya manusia. (Koentjaraningrat, 1975: 15-22).
Kebudayaan
dapat dibentuk, dilestarikan, dikembangakan karena melalui pendidikan. Baik
kebudayaan yang berwujud ideal, atau kelakuan dan teknologi, dapat diwujudkan
melalui proses pendidikan. Cara-cara untuk mewariskan kebudayaan,
khususnya mengajarkan tingkah laku
kepada generasi baru, berbeda dari masyarakat ke masyarakat. Pada dasarnya ada
tiga cara umum yang dapat diidentifikasikan, yaitu informal, nonformal dan
formal. Cara informal terjadi didalam keluarga, dan nonformal dalam masyarakat
yang berkelanjutan dan berlangsung dalam kehidupan sehari-hari. Sedangakn cara
formal melibatkan lembaga khusus yang dibentuk untuk tujuan pendididkan.
Pendidikan formal tersebut dirancang untuk mengarahkan perkembangan tingkah
laku anak didik.
Pada
masyarakat primitive, transmisi kebudayaan dilakukan secara informal dan
formal, sedangkan pada masyarakat yang telah maju transmisi kebudayaan
dilakukan secara informal, nonformal, dan formal. Pada masyarakat yang sudah
maju, sekolah sebagai lembaga social mempunyai peranan yan sangat penting sebab
pendidikan tidak hanya berfungsi untuk mentransmisi kebudayaan kepada generasi
penerus, tetapi pendidikan juga berfungsi untuk mentransformasikan kebudayaan
agar sesuai dengan perkembangan dan tujjuan zaman. Perlu dikemukakan bahwa
dalam bidang pendidikan, kedua fungsi tersebut kadang-kadang dipertentangkan,
antara penganut penddidikan sebagai pelestarian (teaching a conserving activity)
dan penganut pendidikan sebagai pembaruan (teaching as a subversive activity).
b.
Kebudayaan
Nasional sebagai Landasan Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas)
Seperti
telah dikemukakan, yang dimaksud dengan sisdiknas adalah pendidikan yang
berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia. (UU-RI No. 2/1989) pasal 1 ayat 2.
Karena masyarakat Indonesia sebagai pendukung
kebudayaan itu adalah masyarakat yang majemuk, maka kebudayaan bangsa
Indonesia tersebut lebih cepat disebut sebagai kebudayaan Nusantara yang beragam.
Kebudayaan Nasioanl haruslah dipandang dalam latar perkembangan yang dinamis
dan seiringdengan semakin kukuhnya persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia
sesuai dengan asas bhineka tunggal ika.
Pada
awal perkembangannya, suatu kebudayaan terbentuk berkat kemampuan manusia
mengatasi kehidupan alamiahnya dan kesengajaan manusia menciptakan lingkungan
yang cocok bagi kehidupannya.
4.
Landasan
Psikologis
Pendidikan
selalu melibatkan aspek kejiwaan manusia, sehingga landasan psikologis
merupakan salah satu landasan yang penting dalam bidang pendidikan. Terdapat
beberapa pandangan tentang hakikat manusia ditinjau dari segi psikologis dalam
kaitannya dengan pendidikan yakni strategi disposisional, strategi behaviorial,
dan strategi phenomenologist/humanistic. Strategi disposisional, terutama
pandangan konstitusional dari kretschmer dan seldon, memberikan tekanan pada
peranan factor hereditas dalam perkembangan manusia. Pada strategi behavioral
dan strategi phenomenologist ditekankan peranan factor belajar dalam
perkembangan tersebut, akan tetapi keduanya mempunyai pandangan yang berbeda
tentang bagaimana proses belajar itu terjadi. Perbedaan itiu terjadi karena
terjadi adanya “two model of man” (istilah dari William D. Hitt, 1969) yang
menyebabkan terjadinya “Lockean and Leibnitzion tradition” (istilah dari G.W.
Allport).
Pandangan
tentang hakikat manusia ditinjau dari segi psikoedukatif tersebut antara lain
tampak dalam perbedaan pandangan tenpenentu tang teori-teori belajar, faktor-faktor
penentu perkembangan manusia dan sebagainya. Perbedaan pandangan tersebut dapat
berdampak pula dalam pandangan tentang pendidikan.
a)
Pengertian
tentang Lndasan Psikologis
Pemahaman
peserta didik, utamanya yang berkaitan dengan aspek kejiwaan, merupakan salah
satu kunci keberhasilan pendidikan. Perbedaan individual terjadi karena adanya
perbedaan berbagai aspek kejiwaan antar peserta didik, bukan hanya yang
berkaitan dengan kecerdasandan bakat, tetapi juga perbedaan pengalaman dan
tingkat perkembangan, perbedaan aspirasi dan cita-cita, bahkan perbedaan
kepribadian secara keseluruhan. A. Maslow mengemukakan kategorisasi kebutuhan-kebutuhan
menjadi enam kelompok, mulai dari yang paling sederhana dan mendasar meliputi:
1. Kebutuhan
fisiologis: kebutuhan untuk mempertahankan hidup (makan, tidur, istirahat, dsb).
2. Kebutuhan
rasa aman: kebutuhan untuk secara terus menerus merasa aman dan bebas dari
ketakutan.
3. Kebutuhan
akan cinta dan pengakuan: kebutuhan berkaitan dengan kasih sayang dan cinta
dalam kelompok dan dilindungi oleh orang alin.
4. Kebutuhan
harga diri (esteem needs): kebutuhan berkaitan dengan perolehan pengakuan oleh
orang lain sebagai orang yang berkehendak baik.
5. Kebutuhan
untuk aktualisasi diri: kebutuhan untuk dapat melakukan sesuatu dan mewujudkan
potensi-potensi yang dimiliki (menyatakan pendapat, perasaan, dsb).
6. Kebutuhan
untuk mengetahui dan memahami: kebutuhan yang berkaitan dengan penguasaan
IPTEK.
Menurut Maslow kebutuhan yang paling utama adalah
kebutuhan fisiologis dan individu diharapkan dapat mmemenuhi kebutuhan ini sebelum
mengejar kebutuhan akan rasa aman. Berfikir reflektif dapat dipakai untuk
memecahkan masalah. Dewey (1910, dari Wayan Ardana, 1986: modul 1/47)
mengajukan lima langkah pokok untuk
memecahkan masalah:
1. Menyadari
dan merumuskan suatu kesulitan.
2. Mengumpulkan
informasi yang relevan.
3. Merakit
dan mengklasifikasi data serta merumuskan hipotesis-hipotesis.
4. Menerima
dan menolak hipotesis tentative.
5. Merumuskan
kesimpulan dan mengadakan evaluasi.
Sedangkan
James Conant (1951, dari Wayan Ardhana
modul 1986: 1/47) mengajukan 6 langkah
dalam pemecahan masalah:
1. Menyadari
dan merumuskan sesuatu.
2. Mengumpulkan
informasi yang relevan.
3. Merumuskan
hipotesis.
4. Mengadakan
proses deduksi dari hipotesis.
5. Menguji
hipotesis dalam situasi actual.
6. Menerima,
mengubah atau menolak hipotesis.
b)
Pekembangan
Peserta Didik sebagai Landasan
Psikologis
Pesrta
didik selalu berada dalam proses perubahan baik karena pertumbuhan maupun dari
perkembangan. Perkembangan manusia berlangsung sejak konsepsi (pertemuan ovum
dan sperma) sampai saat kematian, sebagai perubahan maju (progesif) ataupun
kadang-kadang kemunduran (regresif).
Salah
satu aspek dari pengembangan manusia seutuhnya adalh yang berkaitan dengan
perkembangan kepribadian utamanya agar dapat diwujudkan kepribadian yang mantap
dan mandiri. Meskipun terdapat variasi pendapat, namun dapat dikemukakan
beberapa prinsip umum perkembangan kepribadian. Disebut sebagai prinsip-prinsip
umum karena:
1) Prinsip
itu mungkin dirumuskan dengan variasi tertentu dalam berbagai teori kepribadian.
2) Prinsip
itu akan tampak bervariasi pada kepribadian manusia tertentu (sebab: kepribadian unik).
Alexander
dengan tegas mengemukakan tiga factor utama yang bekerja dalam menentukan pola kepribadian
seseorang yakni:
1) Bekal
hereditas individu.
2) Pengalaman
awal dikeluarga.
3) Peristiwa
oenting dalam hidupnya diluar lingkungan keluarga (Hurlock, 1974: 19).
Terdapat
dua hal tentang kepribadian yang penting ditinjau dari konteks perkembangan kepribadian yakni:
1) Terintegrasinya
seluruh komponen kepribadian kedalam struktur yang terorganisir secara sistemik.
2) Terjadinya
pola-pola tingkah laku yang konsisten dalam menghadapi lingkungannya.
5.
Landasan
Ilmiah dan Teknologis
Pendidikan
serta ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) mempunyai kaitan yang sangat erat.
Seperti diketahui, iptek menjadi bagian utama dalam isi pengajaran dengan kata lain, pendidikan berperan sangat
penting dalam pewarisan dan pengembangan iptek.
a)
Pengertian
tentang Ilmu Penetahuan dan Teknologi (IPTEK)
Terdapat
beberapa istilah yang perlu dikaji agar
jelas makna dan kedudukan masing-masing, yakni pengetahuan, ilmu pengetahuan,
teknologi serta istilah lain yang terkait dengannya. Landasan antologis dari
ilmu berkaitan dengan objek yang ditelaah oleh ilmu adalah:
a. apa
yang ingin diketahui oleh ilmu, bagaimana wujud hakiki dari objek tersebut ?
b. bagaimana
hubungannya dengan daya tangkap manusia?
c. Seperti
diketahui ilmu membatsi objeknya pada fakta atau kejadian yang bersifat
empiris, yang dapat ditangkap oleh alat indra, baik secara langsung maupun
dengan bantuan alat lain (mikroskop, teleskop, dsb).
Ilmu
mempunyai tiga asumsi tentang objek
empiris itu, yakni:
1. Objek-objek
tertentu mempunyai keserupaan satu sama lain yang memungkinkan dilakukan klasifikasi.
2. Objek
dalam jangka waktu tertentu tidak mengalami perubahan (kelestarian yang
relative).
3. Adanya
determinisme bahwa suatu gejala bukan merupakan kejadian yang kebetulan tetapi
mempunyai pola tertentu yang bersifat tetap.
Landasan
epistemology dari ilmu berkaitan dengan segenap proses untuk memperoleh
penetahuan ilmiah, yakni:
a.
bagaimana prosedurnya ?
b.
apakah yang harus diperhatikan agar diperoleh kebenaran,
cara/teknik sarana apa yang membantu untuk mendapatkanya?
c.
Ilmu merupakan pengetahuan yang
diperoleh melalui proses tertentu yang disebut metode keilmuan.
b)
Perkembangan
IPTEK sebagai Landasan Ilmiah
Iptek
merupakan salah satu hasil dari usaha manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih baik yang telah dimulai pada permulaan kehidupan
manusia. Seperti telah dikemukakan pengembangan dan pemanfaatan iptek pada
umumnya ditempuh melalui rangkaian kegiatan: penelitian dasar, penelitian
terapan, pengembangan teknologi dan penerapan teknologi serta biasanya diikuti
pula dengan evaluasi ethis-politis-religius.
Lembaga
pendidikan, utamanya pendidikan jalur sekolah haruslah mampu mengakomodasi dan
mengaatisipasikan perkembangan iptek. Seperti diketahui beberapa tahun terakhir
disekolah telah digalakkan pelaksanaan belajar siswa aktif dengan pendekatan
keterampilan proses.
B.
Asas-Asas
Pokok Pendidikan
Asas
pendidikan merupakan sesuatukebenaran yang menjadi dasar atau tumpuan berfikir, baik pada tahap
perancangan maupun pelaksanaan pendidikan. Didalam Bab I secara tersirat telah
dikemukakan berbagi asas tersebut dengan pengkajian dengan berbagai dimensi
hakikat manusia. Pandangan tentang hakikat manusia merupakan tumpuan berfikir
utam yang sangat penting dalam pendidikan. Seperti diketahui manusia yang
dilahirkan hamper tanpa daya dan sangat tergantung pada orang lain (orang
tuanya, terutama ibu) namun memiliki potensi yang hamper tanpa batas untuk
dikembangkan.
1.
Asas
Tut Wuri Handayani
Asas
tut wuri handayani yang kioni menjadi semboyan Depdikbud, pada awalnya merupakan salah satu dari “asas 1922” yakni tujuh
buah asas dari perguruan Nasional Taman Siswa. Ketujuh asas tersebut yang
secara singkat disebut “Asas 1922” adalah sebagai berikut:
a. Bahwa
setiap orang mempunyai hak untuk mengatur dirinya sendiri dengan mengingat
tertibnya persatuan dalam perikehidupan umum.
b. Bahwa
pengajaran harus memberi pengetahuan
yang berfaidah yang dalam arti lahir dan batin dapat memerdekakan diri.
c. Bahwa
pengajaran harus berdasar pada kebudayaan dan kebangsaan sendiri.
d. Bahwa
pengajaran harus tersebar luas sampai dapt menjamngkau kepada seluruh rakyat.
e. Bahwa
untuk mengejar kemerdekaan hidup yang sepenuh-penuhnya lahir maupun batin
hendaklah diusahakan dengan kekuatan sendiri dan menolak bantuan apapun dan
dari siapa pun yang mengikat baik berupa iaktan lahir maupun ikatan batin.
f. Bahwa
sebagai konsekuensi hidup dengan kekuatan sendiri maka mutlak harus membelanjai
sendiri segala usha yang dilakukan.
g. Bahwa
dalam mendidik anak-anak perlu adanya
keikhlasan lahir dan batin untuk mengorbankan segala kepentingan pribadi
demi keselamatan dan kebahagiaan anak-anak.
2.
Asas
Belajar Sepanjang Hayat
Asas
sepanjang hayat (life long learning) merupakan sudut pandang dari sisi lain
terhadap pendidikan seumur hidup (life
long education). UNESCO institusi for
Education (UIE hamburg) menetapkan suatu definisi kerja yakni
pendidikan seumur hidup adalah pendidikan yang harus :
1. Meliputi
seluruh hidup setiap individu.
2. Mengarah
kepada pembentukan, pembaharuan, peningkatan, dan penyempurnaan secara
sistematis pemgetahuan.
3. Tujuan
akhirnya mengembangkan penyadarn diri.
4. Meningkatkan
kemampuan dan motivasi untuk belajar mandiri.
5. Mengakui
kontribusi dari semua pengaruh pendidikan yang mungkkin terjadi, termasuk yang
formal, non-formal, dan informal.
Kurikulum
yang mendukung terwujudnya belajar sepanjang hayat harus dirancang dan
implementasi dengan memperhatiakan dua dimensi sebagai berikut:
a.
Dimensi
vertical dari kurikulum sekolah yang meliputi : disamping
yang terkaitan dan kesinambungan antar tngkatan persekolahan harus pula terkait
dengan kehidupan peserta didik dimasa depan. Termasuk dalam dimensi vertical itu antara lain pengkajian tentang:
1. Keterkaitan
dengan kurikulum dengan masa depan peserta didik termasuk relevansi bahan
ajaran dengan masa depan dan pengintegrasian masalah kehidupan nyata kedalam
kurikulum.
2. Kurikulum
dan perubahan social-kebudayaan.
3. “the
forecasting curriculum” yakni perancangan kurikulum berdasarkan suatu prognosis
baik tentang prilaku peserta didik pada saat menamatkan sekolahnya.
4. Keterpaduan
bahan ajaran dan pengorganisasian pengetahuan.
5. Penyiapan
untuk memikul tanggung jawab baik tentang dirinya sendiri maupun dalam bidang
social/pekerjaan.
6. Pengintegrasian
dengan pengalaman yang telah dimiliki peserta didik yakni pengalaman dikeluarga
untuk pendididkan dasar.
7. Untuk
mempertahankan motivasi belajar secara permanen.
b.
Dimensi
horizontal dari kurikulum sekolah yakni keterkaitan antara
pengalaman belajar disekolah dengan pengalaman diluar sekolah. Termasuk dimensi
horizontal antara lain:
1. Kurikulum
sekolah mereklefesi kehidupan diluar sekolah ; kehidupan diluar sekolah menjadi
objek refleksi teoritis didalam bahan ajaran disekolah sehingga peserta didik
lebih memahami persoalan-persoalan pokok
yang terdapat diluar sekolah.
2. Memperluas
kegiatan belajar keluar sekolah;
kehidupan diluar sekolah dijadiakn tempat kajian empiris sehingga kegiatan belajar mengajar terjadi
didalam dan diluar sekolah.
3. Melibatkan
orang tua dan msyarakat dalam kegiatan belajar mengajar baik sebagai narasumber
dalam kegiatan belajar disekolah maupun dalam kegiatan belajar diluar sekolah.
3.
Asas Kemandirian dalam Belajar
Baik
asas tut wuri handayani maupun belajar sepanjang hayat secara langsung erat kaitannya dengan asas kemandirian dalam belajar.
Perwujudan asas kemandirian dalam belajar akan menempatkan guru dalam peran
utama sebagai fasilatator dan motivator disamping peran-peran lain informatory,
organisator, dan sebagainya.
Terdapat
beberapa strategi belajar mengajar yang dapat memberi peluang pengembangan
kemandirian dalam belajar. Beberapa jenis kegiatan belajar mandiri sangat
bermanfaat dalam mengembangkan kemandirian dalam belajar itu, seperti belajar
melalui modul-paket belajar , pengajaran berprogram, dan sebagainya.
Keseluruhan upaya itu akan dapat terlaksana dengan semestinya apabiala setiap
lembaga pendidikan, utamanya sekolah didukung oleh suatu pusat sumber belajar
(PSB) yang memadai. Dengan dukungan PSB itu asas kemandirian dalam belajar akan
lebih dimantapkan dan dikembangkan.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pendidikan
adalah sesuatu yang universal dan
berlangsung terus tak terputus dari generasi ke generasi dimana pun didunia
ini. Macam-macam landasan filosofis , diantaranya yaitu, esensialisme,
perenialisme, pragmatisme dan progresivisme, rekonstruksionisme. Adapun
landasan yang lainnya seperti landasan sosiologis, landasan kultural, landasan
psikologis. Asas-asas pokok pendidikan seperti, asas tut wury handayani
merupakan inti dari sistem among dari perguruan, asas belajar sepanjang hayat adalah sudut
pandang dari sudut lain terhadap pendidikan seumur hidup, asas kemandirian dalam
belajar.
B.
Saran
Semoga
didalam belajar makalah ini kita lebih mengerti tentang pengertian pendidikan
serta penerapannya. Kita pun tau macam-macam landasan, dan berbagai macam
asas-asas didalam pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
Abu
Hanifah. 1950. Rintisan Filsafat.Jakarta:
Balai Pustaka
BP-7
Pusat. 1990. Bahan Penataran, Buku 1
Pedoman Penghayatan dan
Pengamalan Pancasila. Jakarta: BP-7 Pusat
Beerling,
R.F. 1951. Filsafat Dewasa ini, Jilid
1. Jakarta: Balai Pustaka
Conny
Semiawan, et. Al. 1985. Pendekatan
Keterampilan Proses, Bagaimana
Mengaktifkan Siswa Dalam Belajar. Jakarta:
Gramedia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar