Minggu, 09 Februari 2014

LANDASAN DAN ASAS-ASAS PENDIDIDIKAN SERTA PENERAPANYA

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pendidikan sebagai usaha sadar yang sistematis-sistemik selalu bertolak dari sejumlah landasan serta mengindahkan sejumlah asas-asas tertentu. Landasan dan asas tersebut sangat penting, karena pendidikan merupakan pilar utama terhadap pengembangan manusia dan masyarakat suatu bangsa tertentu. Untuk indonesia, pendidikan diharapkan mengusahakan pembentukan manusia pancasila sebagai manusia pembangunan yang tinggi kualitasnya dan mampu mandiri. Pemberian dan dukungan bagi perkembangan masyarakat, bangsa, dan negara indonesia.
Landasan-landasan pendidikan tersebut akan memberikan pijakan dan arah terhadap pembentukan manusia indonesia, serentak dengan itu, mendukungan perkembangan masyarakat, bangsa, dan negara. Sedangkan asas-asas pokok pendidikan akan memberikan corak khusus dalam penyelenggaraan pendidikan itu, dan pada gilirannya, memberi corak pada hasil-hasil pendidikan itu, yakni manusia dan masyarakat indonesia.

B.     Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan dijadikan sebagai bahan acuan adalah sebagai berikut :
1.      Apa saja landasan pendidikan dan asas-asas pendidikan serta bagaimana penerapannya ?
2.      Apa saja macam-macam landasan pendidikan ?
3.      Apakah pengertian tentang berbagai macam landasan pendidikan, serta asas-asas pendidikan ?

C.    Tujuan Pembahasan
Tujuan dari pembahasan makalah ini, antara lain :
1.      Untuk dapat memahami berbagai macam landasan pendidikan.
2.      Untuk dapat memiliki wawasan kependidikan dengan perspektif yang luas tentang pendidikan.

D.    Manfaat Pembahasan
a.      Bagi Penulis
Manfaat yang bisa diambil oleh penulis adalah sebagai berikut :
1.      Bisa memahami apa yang telah dibahas dalam makalah ini.
2.      Bisa memberikan pengetahuan kepada pembaca.

b.      Bagi Pembaca
Manfaat yang bisa diambil oleh pembaca adalah sebagai berikut :
a.       Bisa mengetahui pengertian dari landasan dan asas-asas pendidikan.
b.      Bisa mengetahui pengertian, dan penerapan landasan dan asas-asas pendidikan.


BAB II
PEMBAHASAN
LANDASAN DAN ASAS-ASAS PENDIDIDIKAN SERTA PENERAPANYA
A.    Landasan Pendidikan
Pendidikan adalah suatu yang universal dan berlangsung terus. Tak terputusdari generasi ke generasi dimanapun di dunia ini. Upaya manusia memanusiakan manusia melalui pendidikan itu diselenggarakan  sesuai dengan pandangan hidup.dan dalam latar social kebudayaan setiap masyarakat tertentu sesuai dengan pandangan hidup dengan kata lain, pendidikan diselenggarakan berlandaskan filsafat hidup serta berlandaskan sosiokultural stiap masyarakat, termasuk di Indonesia. Kajian ketiga landasan itu.
1.      Landasan Filosofis
Landasan filosofis merupakan landasan yang berkaitan degan makna atau hakiakat pendidikan, yang berusaha menelaah masalah-masalah pokok.konsepsi-konsepsi filosofis tentang kehidupa manusia dan dunianya pada umumnya bersumber dari dua faktor :
1.      Religi dan etika yang bertumpu pada keyakinnan.
2.      Ilmu pengetahuanyang mengandalkan penalaran.



a.      Pengertian Tentang Landasan Filosofis
Terdapat kaitan yang erat antara pendidikan dan filsafat karena filsafat mencoba merumuskan citra tentang manusia dan masyarakat. Peranan filsafat dalam bidang pendidikan tersebut berkaitan dengan hasil kajian antara lain:
1.      Keberadaan dan kedudukan manusia sebagai makhluk didunia ini.
2.      Masyarakat dankebudayaannya.
3.      Keterbatasan manusia sebagai makhluk hidup yang banyak menghadappi tantangan.
4.      Perlunya landasan pemikiran dalam pekrjaan pendidikan.
Aliran filsafat yang sangat besar pengaruhnya terhadap pendidikan adalah idealisme, frenialisme, progrevisme, dan rekonstruksionisme. Baik sebagai aliran filsafat maupun sebagai mazhab filsafat pendidika, pandangan-pandangan tentang manusia dan dunianya pada umumnya ikut mempengaruhi konsepsi dan atau penyelenggaraan pedidikan.
1.      Naturalisme merupakan aliran filsafat yang menganggap segala kenyataan yang bias di tangkap oleh panca indra sebagai kebenaran yang sebenarnya.
2.      Betentangan dengan aliran diatas, idealisme menegaskan bahwa hakikat kenyataan adalah ide sebagai gagasan kejiwaan.
3.      Pragmatisme merupakan aliran filsafat yang mengemukakan bahwa segala sesuatu harus di nilai dari segi kegunaan.
4.      Aliran filsafat yang bercorak keagamaan ikut pula mempengaruhi pemikiran tentang pendidikan.
Selanjutnya, empat mahzab filsafat pendidikan yang besar pengaruhnya dalam pemkiran dan penyelenggaraan pendidikan.  Keeempat mazhab pendidkan itu adalah:
1)      Esensialisme
Esensialisme merupakan mazhab filsafat pendidikan yang menerapkan prinsip edealime dan realisme secara elektis. Filsafat idealisme memberikan dasar tinjauan filosofis bagi pelajaran sejarah, sedangkan ilmu pengetahuan alam di ajarkan berdasarkan tinjauan yang realistik. Mateematika yang sangat di utamakan idealime, karena matematika adalah alat oeng hitung penjumlahan dari apap-apa yang rill, materill, dan nyata.
2)      Perenialisme
Ada persamaan antara perenialime dan esensialisme, yakni keduanya membela kurikulum tradisional yang berpusat pada mata pelajaran yang pokok, perbedaanya iyalah prenealisme menekankan ke abadian teori kehikmatan. Oleh karena itu, dinamakan perenialisme karena kurikulumnya berisi materi yang konstan atau peenial.
Mazhab perenialisme memiliki penganut pada perguruan swasta di Indonesia, karena mengintegerasikan kebenaran agama dengan kebenaran ilmu. Karena kebenaran itu satu, maka harus ada satu pendidikan berlaku umum dan terbuka kepada umum. Juga sebaiknya kurikulum bersipat wajib dan berlaku umum, yang harus mencakup bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam, dan sejarah.
3)      Pragmatisme dan Progresivisme
Manusia akan mengalammi perkembangan apabila berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya  berdasarkan pemikiran. Sekolah adalah suatu lingkungan khusus yang merupakan sambungan dari lingkungan sosial yang lebih umum.  Progresivisme atau gerakan pendidikan progresif mengembangkan teori pendidikan yang mendasakan diri pada bebebrapa prinsip, antara lain sebagai berikut:
a.       Anak harus bebas un t uk dapat berkembang secara wajar.
b.      Pengalaman langsung merupakan cara terbaik untuk merangsang minat belajar.
c.       Guru harus menjadi seorang peneliti dan pembimbing kegiatan belajar.
d.      Seklah progresif harus merupakan suatulaboturium untuk melakukan reformasi pedagogis dan ekseprimentasi.

4)      Rekontruksionisme
Rekontruksionisme adalah suatu kelanjutan yang logis dari cara berpikir progresif dalam pendidikan. Individu tidak hanya belajar tentang pengalaman-pengalaman kemasyarakatan masa kini di sekolah. Tetapi haruslah mememlopori masyarakat kearah masyarakat baru yang diinginkan. Dengan demikian, tidak seiap individu dan kelompokakan mememcahkan masalah kemasyarakatan secara sendiri-sendiri. Namun sebagai pemimpin penelitian, guru di tuntut supaya menguasai sejumlah pengetahuan dan ilmu esensial demi keterararahan pertumbuhan muridnya.
b.      Pancasila Sebagai Landasan Filosofis Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas)
Pasal 2UU-RI No. 2 Tahun 1989 menetapkan bahwa pendidikan Nasional berdasarkan pancasila dan undang-undang dasar 1945. yang menegaskan bahwa pembangunnan nasional termasuk di bidang pendidikan, adalah pengamalan pancasila, dan untuk itu pendidikan nasionl mengusahakan antara lain : “pembentukan manusia pancasila ssebagai manusia pembangunnan yang tinggi kualitasnya dan mampu mandiri ”(UU, 1992: 24). Sedangkan ketetapan MPR-RI No. II/MPR/1978 tentang pedoan  Penghayatan dan pengamalan pancasila menegaskan pula bahwa pancasila itu adalah jiwa seluruh rakyat Indonesia, pandangan hidup bangsa Indonesia, dan dasar Negara Republik Indonesia.
Perlu di tegaskan bahwa pengamalan pancasila itu haruslah dalam arti keseluruhan dan keutuhan kelima sila dalam pancasila itu, sebagai yang dirumuskan dalam pembukaanUUD 1945, yakni ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusian yang adil dan beradap, Persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dan keadian sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
2.      Landasan Sosiologis
Ciri-ciri hewan dapat ditemukan pada manusia. Kehidupan sosial manusia di pelajarri oleh filsafat, yang berusaha mencari hakikat masyarakat yang sebenarnya. Filsafat social sering membedakan manusia sebagai individu dan manusia sebagai anggota masyarakat. Pandangan-pandangan aliran-aliran filsafat tentang realitas social itu berbeda-beda, sehingga dapat di temukan bermacam-macam aliran filsafat social.
Nama sosiologi untuk pertama kali digunakan oleh Agust Comte (1798-1857) pada tahun 1839, sosiologi merupakan ilmu peengetauan positif yang mempelajari masyarakat. Sosiologi mempelajari berbagai tindakan social yang menjelma dengan realitas sosial. Mengingat banyaknya realitas sosial maka lahirlah bebagai cabang sosiologi seperti, sosiologi kebudayaan, sosiologi ekonomi, sosiologi agama, sosiologi pengetahuan, sosiologi pendidikan, dan lain-lain.
a.      Pengertian Tentang Landasan Sosiologi
Kegiatan pendiddikan merupakan suatu proses interaksi antara dua individu, bahkan dua generasi, yang memungkinkan generasi muda memperkembangkan diri. Dengan meningkatkan perhatian sosiologi pada kegiatan pendidikan tersebut, maka lahirlah cabang sosiologi pendidikan.
Sosiologi pendidikan merupakan analisis ilmiah tentang proses social dan pola-pola interaksi social didalam system pendidikan. Ruang lingkup yang dipelajari oleh sosiologi  pendidikan meliputi empat bidang:
1)      Hubungan system pendidikan dengan aspek masyarakat lain, yang mempelajari:
a.       Fungsi pendidikan dalam kebudayaan.
b.      Hubungan system pendidikan dan proses control social dan system kekuasaan.
c.       Fungsi system pendidikan dalam memelihara dan mendorong proses social dan perubahan kebudayaan.
d.      Hubungan pendidikan dengan kelas social atau system status.
e.       Fungsionalisasi system pendidikan formal dalam hubungannya dengan ras, kebudayaan, atau kelompok-kelompok dalam masyarakat.

2)      Hubungan kemanusian disekolah yang meliputi:
a.       Sifat kebudayaan sekolah khususnya  yang berbeda dengan kebudayaan diluar sekolah.
b.      Pola interaksi social atau struktur masyarakat sekolah.

3)      Pengaruh sekolah pada perilaku anggotanya, yang mempelajari:
a.       Peranan social guru.
b.      Sifat kepribadian guru.
c.       Pengaruh kepribadian guru terhadap tingkah laku siswa.
d.      Fungsi sekolah dalam sosialisasi anak-anak.

4)      Sekolah dalam komunitas yang mempelajari pola interaksi antara sekolah dengan kelompok social lain didalam komunitasnya, yang meliputi:
a.       Pelukisan tentang komunita seperti tampak dalam pengaruhnya terhadap organisasi sekolah.
b.      Analisis tentang proses pendidikan seperti tampak terjadi pada system social komunitas kaum tidak terpelajar.
c.       Hubungan antara sekolah dan komunitas dalam fungsi kependidikannya.
Keempat bidang yang dipelajari tersebut sangat esensial sebagi sarana untuk memahami system pendidikan dalam kaitannya dengan keseluruhan hidup masyarakat (Wayan Ardana, 1986: modul 1/67). Kajian sosiologi pada pendidikan pada prinsipnya mencakup semua jalur pendidikan, baik pendidikan sekolah maupun pendidikan diluar sekolah. Khususnya untuk jalur pendidikan luar sekolah, terutama apabial ditinjau dari sosiologi maka pendidikan keluarga adalah sangat penting, karena keluarga merupakan lembaga sosial yang pertama bagi setiap manusia. Dalam UUD RI   No.  2 tahun 1989 pasal 10 ayat 4 dinyatakan bahwa “pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga dan yang memberikan keyakian agama, nilai budaya, nilai moral, dan keterampilan”.
b.      Masyarakat Indonesia sebagai Landasan Sosiologis Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas)
Masyarakat mencakup sekelompok orang yang berinteraksi antar sesamanya, saling tergantung dan terikat oleh nilai dan norma yang dipatuhi bersama, serta pada umumnya bertempat tinggal di wilayah tertentu, dan adakalanya mereka mempunyai hubungan darah atau memiliki kepentingan bersama. Masyarakat dalam arti luas pada umumnya lebih abstrak apabila dibandingkan dengan masyarakat dalam arti sempit.


Masyarakat sebagai kesatuan hidup memiliki ciri utama antara lain:
a.       Ada interaksi antara warga-warganya
b.      Pola tingkah laku warganya diatur oleh adat istiadat, norma-norma, hukum, dan aturan-aturan khas
c.       Ada rasa identitas yang mengikat pada warganya. Kesatuan wilayah, kesatuan adat istiadat rasa identitas, dan rasa loyalitas terhadap kelompoknya merupakan pangkal dari persaan bangga sebagai patriotism, nasionalisme, jiwa korps, dan kesetiakawanan social dan lain-lain (Wayan Ardana, 1986: modul 1/68)
Sampai saat ini, masyarakat Indonesia masih ditandai oleh dua ciri yang unik, yakni:
1.      Secara horizontal ditandai oleh kesatuan-kesatuan social atau komunitas berdasarkan perbedaan suku, agama, adat istiadat, dan kedaerahan.
2.      Secar vertical ditandai oleh adanya perbedaan pola kehidupan antara lapisan atas, menengah, dan alpisan rendah.
Pada zaman penjajahan sifat dasar masyarakat Indonesia yang menonjol adalah:
a.       Terjadi segmentasi kedalam bentuk kelompok social atau golongan social jajahan yang seringkali memiliki sub-kebudayaan sendiri
b.      Memiliki struktur social yang terbagi-terbagi
c.       Seringkali anggota masyarakat atau kelompok tidak mengembangkan consensus diantara mereka terhadap nilai-nilai yang bersifat mendasar
d.      Diantara kelompok , relative seringkali mengalami konflik-konflik
e.       Terdapat saling ketergantungan dibidang ekonomi
f.       Adanya dominasi politik oleh suatu kelompok atas kelompok-kelompok social yang lain
g.      Secara relative integrasi social sukar dapat tumbuh (Wayan Ardina, 1968: modul 1/70).

3.      Landasan Kultural
Pendidikan selalu terkait dengan manusia, sedang setiap manusia selalu menjadi anggota masyarakat dan pendukung kebudayaan tertentu. Oleh karena itu, UU-RI No. 2 tahun 1989 pasal 1 ayat 2 ditegaskan bahwa yang dimaksud dengan system pendidikan nasional adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan yang berdasarkan pada pancasila dan UUD 1945. Kebudayaan dari pendidikan mempunyai hubungan timbal balik, sebab kebudayaan dapat dilestarikan/ dikembangkan dengan jalan mewariskan kebudayaan dari generasi ke generasi penerus dengan jalan pendidikan, baik secara informal maupun secara formal. Dimaksud dengan kebudayaan adalah hasil cipta dan karya manusia berupa norma-norma, nilai-nilai, kepercayaan, tingkah laku, dan teknologi yang dipelajari dan dimiliki oleh semua anggota masyarakat tertentu.
a.      Pengertian tentang Landsan Kultural
Kebudayaan sebagai gagasan dan karya manusia beserta hasil budi dan karya itu akan selalu terkait dengan pendidikan, utamanya belajar. Kebudayaan dalam arti luas tersebut dapat berwujud:
1.      Ideal seperti ide, gagasan, nilai, dan sebagainya.
2.      Kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat.
3.      Fisik yakni benda hasil karya manusia. (Koentjaraningrat, 1975: 15-22).
Kebudayaan dapat dibentuk, dilestarikan, dikembangakan karena melalui pendidikan. Baik kebudayaan yang berwujud ideal, atau kelakuan dan teknologi, dapat diwujudkan melalui proses pendidikan. Cara-cara untuk mewariskan kebudayaan, khususnya  mengajarkan tingkah laku kepada generasi baru, berbeda dari masyarakat ke masyarakat. Pada dasarnya ada tiga cara umum yang dapat diidentifikasikan, yaitu informal, nonformal dan formal. Cara informal terjadi didalam keluarga, dan nonformal dalam masyarakat yang berkelanjutan dan berlangsung dalam kehidupan sehari-hari. Sedangakn cara formal melibatkan lembaga khusus yang dibentuk untuk tujuan pendididkan. Pendidikan formal tersebut dirancang untuk mengarahkan perkembangan tingkah laku anak didik.
Pada masyarakat primitive, transmisi kebudayaan dilakukan secara informal dan formal, sedangkan pada masyarakat yang telah maju transmisi kebudayaan dilakukan secara informal, nonformal, dan formal. Pada masyarakat yang sudah maju, sekolah sebagai lembaga social mempunyai peranan yan sangat penting sebab pendidikan tidak hanya berfungsi untuk mentransmisi kebudayaan kepada generasi penerus, tetapi pendidikan juga berfungsi untuk mentransformasikan kebudayaan agar sesuai dengan perkembangan dan tujjuan zaman. Perlu dikemukakan bahwa dalam bidang pendidikan, kedua fungsi tersebut kadang-kadang dipertentangkan, antara penganut penddidikan sebagai pelestarian (teaching a conserving activity) dan penganut pendidikan sebagai pembaruan (teaching as a subversive activity).
b.      Kebudayaan Nasional sebagai Landasan Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas)
Seperti telah dikemukakan, yang dimaksud dengan sisdiknas adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia. (UU-RI No. 2/1989) pasal 1 ayat 2. Karena masyarakat Indonesia sebagai pendukung  kebudayaan itu adalah masyarakat yang majemuk, maka kebudayaan bangsa Indonesia tersebut lebih cepat disebut sebagai kebudayaan Nusantara yang beragam. Kebudayaan Nasioanl haruslah dipandang dalam latar perkembangan yang dinamis dan seiringdengan semakin kukuhnya persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia sesuai dengan  asas bhineka tunggal ika.
Pada awal perkembangannya, suatu kebudayaan terbentuk berkat kemampuan manusia mengatasi kehidupan alamiahnya dan kesengajaan manusia menciptakan lingkungan yang cocok bagi kehidupannya.

4.      Landasan Psikologis
Pendidikan selalu melibatkan aspek kejiwaan manusia, sehingga landasan psikologis merupakan salah satu landasan yang penting dalam bidang pendidikan. Terdapat beberapa pandangan tentang hakikat manusia ditinjau dari segi psikologis dalam kaitannya dengan pendidikan yakni strategi disposisional, strategi behaviorial, dan strategi phenomenologist/humanistic. Strategi disposisional, terutama pandangan konstitusional dari kretschmer dan seldon, memberikan tekanan pada peranan factor hereditas dalam perkembangan manusia. Pada strategi behavioral dan strategi phenomenologist ditekankan peranan factor belajar dalam perkembangan tersebut, akan tetapi keduanya mempunyai pandangan yang berbeda tentang bagaimana proses belajar itu terjadi. Perbedaan itiu terjadi karena terjadi adanya “two model of man” (istilah dari William D. Hitt, 1969) yang menyebabkan terjadinya “Lockean and Leibnitzion tradition” (istilah dari G.W. Allport).
Pandangan tentang hakikat manusia ditinjau dari segi psikoedukatif tersebut antara lain tampak dalam perbedaan pandangan tenpenentu tang teori-teori belajar, faktor-faktor penentu perkembangan manusia dan sebagainya. Perbedaan pandangan tersebut dapat berdampak pula dalam pandangan tentang pendidikan.
a)      Pengertian tentang Lndasan Psikologis
Pemahaman peserta didik, utamanya yang berkaitan dengan aspek kejiwaan, merupakan salah satu kunci keberhasilan pendidikan. Perbedaan individual terjadi karena adanya perbedaan berbagai aspek kejiwaan antar peserta didik, bukan hanya yang berkaitan dengan kecerdasandan bakat, tetapi juga perbedaan pengalaman dan tingkat perkembangan, perbedaan aspirasi dan cita-cita, bahkan perbedaan kepribadian secara keseluruhan. A. Maslow mengemukakan kategorisasi kebutuhan-kebutuhan menjadi enam kelompok, mulai dari yang paling sederhana dan mendasar meliputi:
1.      Kebutuhan fisiologis: kebutuhan untuk mempertahankan hidup (makan, tidur, istirahat, dsb).
2.      Kebutuhan rasa aman: kebutuhan untuk secara terus menerus merasa aman dan bebas dari ketakutan.
3.      Kebutuhan akan cinta dan pengakuan: kebutuhan berkaitan dengan kasih sayang dan cinta dalam kelompok dan dilindungi oleh orang alin.
4.      Kebutuhan harga diri (esteem needs): kebutuhan berkaitan dengan perolehan pengakuan oleh orang lain sebagai orang yang berkehendak baik.
5.      Kebutuhan untuk aktualisasi diri: kebutuhan untuk dapat melakukan sesuatu dan mewujudkan potensi-potensi yang dimiliki (menyatakan pendapat, perasaan, dsb).
6.      Kebutuhan untuk mengetahui dan memahami: kebutuhan yang berkaitan dengan penguasaan IPTEK.
Menurut  Maslow kebutuhan yang paling utama adalah kebutuhan fisiologis dan individu diharapkan dapat mmemenuhi kebutuhan ini sebelum mengejar kebutuhan akan rasa aman. Berfikir reflektif dapat dipakai untuk memecahkan masalah. Dewey (1910, dari Wayan Ardana, 1986: modul 1/47) mengajukan lima langkah pokok untuk  memecahkan masalah:
1.      Menyadari dan merumuskan suatu kesulitan.
2.      Mengumpulkan informasi yang relevan.
3.      Merakit dan mengklasifikasi data serta merumuskan hipotesis-hipotesis.
4.      Menerima dan menolak hipotesis tentative.
5.      Merumuskan kesimpulan dan mengadakan evaluasi.
Sedangkan James  Conant (1951, dari Wayan Ardhana modul 1986: 1/47) mengajukan  6 langkah dalam pemecahan masalah:
1.      Menyadari dan merumuskan sesuatu.
2.      Mengumpulkan informasi yang relevan.
3.      Merumuskan hipotesis.
4.      Mengadakan proses  deduksi dari hipotesis.
5.      Menguji hipotesis dalam situasi actual.
6.      Menerima, mengubah atau menolak hipotesis.

b)     Pekembangan Peserta Didik  sebagai Landasan Psikologis
Pesrta didik selalu berada dalam proses perubahan baik karena pertumbuhan maupun dari perkembangan. Perkembangan manusia berlangsung sejak konsepsi (pertemuan ovum dan sperma) sampai saat kematian, sebagai perubahan maju (progesif) ataupun kadang-kadang kemunduran (regresif).
Salah satu aspek dari pengembangan manusia seutuhnya adalh yang berkaitan dengan perkembangan kepribadian utamanya agar dapat diwujudkan kepribadian yang mantap dan mandiri. Meskipun terdapat variasi pendapat, namun dapat dikemukakan beberapa prinsip umum perkembangan kepribadian. Disebut sebagai prinsip-prinsip umum karena:
1)      Prinsip itu mungkin dirumuskan dengan variasi tertentu dalam berbagai teori kepribadian.
2)      Prinsip itu akan tampak bervariasi pada kepribadian manusia tertentu  (sebab: kepribadian unik).
Alexander dengan tegas mengemukakan tiga factor utama yang  bekerja dalam menentukan pola kepribadian seseorang  yakni:
1)      Bekal hereditas individu.
2)      Pengalaman awal dikeluarga.
3)      Peristiwa oenting dalam hidupnya diluar lingkungan keluarga (Hurlock,  1974: 19).
Terdapat dua hal tentang kepribadian yang penting ditinjau dari konteks  perkembangan kepribadian yakni:
1)      Terintegrasinya seluruh komponen kepribadian kedalam struktur yang terorganisir  secara sistemik.
2)      Terjadinya pola-pola tingkah laku yang konsisten dalam menghadapi lingkungannya.

5.      Landasan Ilmiah dan Teknologis
Pendidikan serta ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) mempunyai kaitan yang sangat erat. Seperti diketahui, iptek menjadi bagian utama dalam isi pengajaran  dengan kata lain, pendidikan berperan sangat penting dalam pewarisan dan pengembangan iptek.
a)      Pengertian tentang Ilmu Penetahuan dan Teknologi (IPTEK)
Terdapat beberapa istilah yang perlu dikaji  agar jelas makna dan kedudukan masing-masing, yakni pengetahuan, ilmu pengetahuan, teknologi serta istilah lain yang terkait dengannya. Landasan antologis dari ilmu berkaitan dengan objek yang ditelaah oleh ilmu adalah:
a.       apa yang ingin diketahui oleh ilmu, bagaimana wujud hakiki dari objek tersebut ?
b.      bagaimana hubungannya dengan daya tangkap manusia?
c.       Seperti diketahui ilmu membatsi objeknya pada fakta atau kejadian yang bersifat empiris, yang dapat ditangkap oleh alat indra, baik secara langsung maupun dengan bantuan alat lain (mikroskop, teleskop, dsb).
Ilmu mempunyai tiga asumsi tentang objek  empiris itu, yakni:
1.      Objek-objek tertentu mempunyai keserupaan satu sama lain yang memungkinkan dilakukan  klasifikasi.
2.      Objek dalam jangka waktu tertentu tidak mengalami perubahan (kelestarian yang relative).
3.      Adanya determinisme bahwa suatu gejala bukan merupakan kejadian yang kebetulan tetapi mempunyai pola tertentu yang bersifat tetap.
Landasan epistemology dari ilmu berkaitan dengan segenap proses untuk memperoleh penetahuan ilmiah, yakni:
a.       bagaimana prosedurnya ?
b.      apakah yang harus  diperhatikan agar diperoleh kebenaran, cara/teknik sarana apa yang membantu untuk mendapatkanya?
c.       Ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh melalui proses tertentu yang disebut metode keilmuan.

b)     Perkembangan IPTEK sebagai Landasan Ilmiah
Iptek merupakan salah satu hasil dari usaha manusia untuk mencapai kehidupan  yang lebih baik  yang telah dimulai pada permulaan kehidupan manusia. Seperti telah dikemukakan pengembangan dan pemanfaatan iptek pada umumnya ditempuh melalui rangkaian kegiatan: penelitian dasar, penelitian terapan, pengembangan teknologi dan penerapan teknologi serta biasanya diikuti pula dengan evaluasi ethis-politis-religius.
Lembaga pendidikan, utamanya pendidikan jalur sekolah haruslah mampu mengakomodasi dan mengaatisipasikan perkembangan iptek. Seperti diketahui beberapa tahun terakhir disekolah telah digalakkan pelaksanaan belajar siswa aktif dengan pendekatan keterampilan proses.
B.     Asas-Asas Pokok Pendidikan
Asas pendidikan merupakan sesuatukebenaran yang menjadi dasar  atau tumpuan berfikir, baik pada tahap perancangan maupun pelaksanaan pendidikan. Didalam Bab I secara tersirat telah dikemukakan berbagi asas tersebut dengan pengkajian dengan berbagai dimensi hakikat manusia. Pandangan tentang hakikat manusia merupakan tumpuan berfikir utam yang sangat penting dalam pendidikan. Seperti diketahui manusia yang dilahirkan hamper tanpa daya dan sangat tergantung pada orang lain (orang tuanya, terutama ibu) namun memiliki potensi yang hamper tanpa batas untuk dikembangkan.
1.      Asas Tut Wuri Handayani
Asas tut wuri handayani yang kioni menjadi semboyan Depdikbud, pada awalnya  merupakan salah satu dari “asas 1922” yakni tujuh buah asas dari perguruan Nasional Taman Siswa. Ketujuh asas tersebut yang secara singkat disebut “Asas 1922” adalah sebagai berikut:
a.       Bahwa setiap orang mempunyai hak untuk mengatur dirinya sendiri dengan mengingat tertibnya persatuan dalam perikehidupan umum.
b.      Bahwa pengajaran harus memberi pengetahuan  yang berfaidah yang dalam arti lahir dan batin dapat memerdekakan diri.
c.       Bahwa pengajaran harus berdasar pada kebudayaan dan kebangsaan sendiri.
d.      Bahwa pengajaran harus tersebar luas sampai dapt menjamngkau kepada seluruh rakyat.
e.       Bahwa untuk mengejar kemerdekaan hidup yang sepenuh-penuhnya lahir maupun batin hendaklah diusahakan dengan kekuatan sendiri dan menolak bantuan apapun dan dari siapa pun yang mengikat baik berupa iaktan lahir maupun ikatan batin.
f.       Bahwa sebagai konsekuensi hidup dengan kekuatan sendiri maka mutlak harus membelanjai sendiri segala usha yang dilakukan.
g.      Bahwa dalam mendidik anak-anak perlu adanya  keikhlasan lahir dan batin untuk mengorbankan segala kepentingan pribadi demi keselamatan dan kebahagiaan anak-anak.

2.      Asas Belajar  Sepanjang Hayat
Asas sepanjang hayat (life long learning) merupakan sudut pandang dari sisi lain terhadap pendidikan  seumur hidup (life long  education). UNESCO institusi for Education (UIE  hamburg)  menetapkan suatu definisi kerja yakni pendidikan seumur hidup adalah pendidikan yang harus :
1.      Meliputi seluruh hidup setiap individu.
2.      Mengarah kepada pembentukan, pembaharuan, peningkatan, dan penyempurnaan secara sistematis pemgetahuan.
3.      Tujuan akhirnya mengembangkan  penyadarn diri.
4.      Meningkatkan kemampuan dan motivasi untuk belajar mandiri.
5.      Mengakui kontribusi dari semua pengaruh pendidikan yang mungkkin terjadi, termasuk yang formal, non-formal, dan informal.

Kurikulum yang mendukung terwujudnya belajar sepanjang hayat harus dirancang dan implementasi dengan memperhatiakan dua dimensi sebagai  berikut:
a.      Dimensi vertical dari kurikulum sekolah yang meliputi : disamping yang terkaitan dan kesinambungan antar tngkatan persekolahan harus pula terkait dengan kehidupan peserta didik dimasa depan. Termasuk dalam dimensi  vertical itu antara lain pengkajian tentang:
1.      Keterkaitan dengan kurikulum dengan masa depan peserta didik termasuk relevansi bahan ajaran dengan masa depan dan pengintegrasian masalah kehidupan nyata kedalam kurikulum.
2.      Kurikulum dan perubahan social-kebudayaan.
3.      “the forecasting curriculum” yakni perancangan kurikulum berdasarkan suatu prognosis baik tentang prilaku peserta didik pada saat menamatkan sekolahnya.
4.      Keterpaduan bahan ajaran dan pengorganisasian pengetahuan.
5.      Penyiapan untuk memikul tanggung jawab baik tentang dirinya sendiri maupun dalam bidang social/pekerjaan.
6.      Pengintegrasian dengan pengalaman yang telah dimiliki peserta didik yakni pengalaman dikeluarga untuk pendididkan dasar.
7.      Untuk mempertahankan motivasi belajar secara permanen.

b.      Dimensi horizontal dari kurikulum sekolah yakni keterkaitan antara pengalaman belajar disekolah dengan pengalaman diluar sekolah. Termasuk dimensi horizontal antara lain:
1.      Kurikulum sekolah mereklefesi kehidupan diluar sekolah ; kehidupan diluar sekolah menjadi objek refleksi teoritis didalam bahan ajaran disekolah sehingga peserta didik lebih  memahami persoalan-persoalan pokok yang terdapat diluar sekolah.
2.      Memperluas kegiatan belajar keluar  sekolah; kehidupan diluar sekolah dijadiakn tempat kajian empiris  sehingga kegiatan belajar mengajar terjadi didalam dan diluar sekolah.
3.      Melibatkan orang tua dan msyarakat dalam kegiatan belajar mengajar baik sebagai narasumber dalam kegiatan belajar disekolah maupun dalam kegiatan belajar diluar sekolah.

3.      Asas  Kemandirian dalam  Belajar
Baik asas tut wuri handayani maupun belajar sepanjang hayat secara langsung  erat kaitannya  dengan asas kemandirian dalam belajar. Perwujudan asas kemandirian dalam belajar akan menempatkan guru dalam peran utama sebagai fasilatator dan motivator disamping peran-peran lain informatory, organisator, dan sebagainya.
Terdapat beberapa strategi belajar mengajar yang dapat memberi peluang pengembangan kemandirian dalam belajar. Beberapa jenis kegiatan belajar mandiri sangat bermanfaat dalam mengembangkan kemandirian dalam belajar itu, seperti belajar melalui modul-paket belajar , pengajaran berprogram, dan sebagainya. Keseluruhan upaya itu akan dapat terlaksana dengan semestinya apabiala setiap lembaga pendidikan, utamanya sekolah didukung oleh suatu pusat sumber belajar (PSB) yang memadai. Dengan dukungan PSB itu asas kemandirian dalam belajar akan lebih dimantapkan dan dikembangkan.



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pendidikan adalah sesuatu yang  universal dan berlangsung terus tak terputus dari generasi ke generasi dimana pun didunia ini. Macam-macam landasan filosofis , diantaranya yaitu, esensialisme, perenialisme, pragmatisme dan progresivisme, rekonstruksionisme. Adapun landasan yang lainnya seperti landasan sosiologis, landasan kultural, landasan psikologis. Asas-asas pokok pendidikan seperti, asas tut wury handayani merupakan inti dari sistem among dari perguruan,  asas belajar sepanjang hayat adalah sudut pandang dari sudut lain terhadap pendidikan seumur hidup, asas kemandirian dalam belajar.
B.     Saran
Semoga didalam belajar makalah ini kita lebih mengerti tentang pengertian pendidikan serta penerapannya. Kita pun tau macam-macam landasan, dan berbagai macam asas-asas didalam pendidikan.



DAFTAR PUSTAKA
Abu Hanifah. 1950. Rintisan Filsafat.Jakarta: Balai Pustaka

BP-7 Pusat. 1990. Bahan Penataran, Buku 1 Pedoman Penghayatan dan
Pengamalan Pancasila. Jakarta: BP-7 Pusat

Beerling, R.F. 1951. Filsafat Dewasa ini, Jilid 1. Jakarta: Balai Pustaka

Conny Semiawan, et. Al. 1985. Pendekatan Keterampilan Proses, Bagaimana

Mengaktifkan Siswa Dalam Belajar. Jakarta: Gramedia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar